Mendapat Restu Keluarga Besar Maju Pilkades Onepute, Fudin Mbeo Siap Menapaki Jalan Pengabdian

Uncategorized616 Views

Morowali Utara — Di balik tumpukan ikan segar dan hiruk-pikuk pasar tradisional, berdiri sosok sederhana yang penuh semangat pengabdian. Ia adalah Syarifuddin Mbeo, atau akrab disapa Fudin, seorang penjual ikan asal Desa Onepute, Kecamatan Petasia Barat, yang kini dikenal sebagai tokoh muda penuh inspirasi di tanah kelahirannya.

Lahir di Onepute pada 14 April 1981 (44 tahun), Fudin tumbuh di bantaran sungai Laa — lingkungan yang akrab dengan kerasnya perjuangan hidup dan terjangan banjir. Dari pekerjaan menjajakan ikan hasil tangkapan nelayan tradisional, ia belajar tentang arti perjuangan, kejujuran, dan pentingnya saling menolong. Profesi itu masih ia jalani hingga kini — bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi ruang untuk terus dekat dengan masyarakat.

Bagi saya, jual ikan bukan hanya soal untung dan rugi, tapi tentang hubungan antar manusia,” ujarnya suatu ketika kepada warga.

Kata-kata itu mencerminkan ketulusannya. Dalam keseharian, banyak kisah sederhana yang menunjukkan hatinya yang hangat. Salah satu warga menuturkan, Fudin kerap meminjamkan mobil pribadinya yang biasa dipakai berjualan ikan kepada siapa pun yang membutuhkan — bahkan di tengah malam, tanpa pamrih dan tanpa banyak bicara.

Namun di balik sosok penjual ikan yang bersahaja itu, berdiri sebuah keluarga yang menjadi sumber semangat dan kekuatan terbesar dalam setiap langkah hidupnya. Sang istri tercinta, Yesni (Nining), adalah sosok yang tak pernah lelah mendampingi — bukan hanya sebagai pasangan hidup, tetapi juga teman seperjuangan yang selalu percaya pada setiap niat baik suaminya.

Bersama dua putra mereka — Mohammad Farel dan Mohammad Falen — keluarga ini tumbuh dalam kesederhanaan yang penuh cinta. Dukungan mereka bukan hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi juga tindakan kecil yang menguatkan setiap hari.

Setiap kali Fudin pulang dari pasar, Nining sudah menyiapkan segelas kopi hangat. Di teras rumah, mereka berbincang ringan tentang warga desa, tentang anak-anak, tentang masa depan Onepute. Dari ruang sederhana itu, lahir banyak keputusan besar — termasuk dorongan kuat dari keluarga untuk melangkah lebih jauh mengabdi kepada masyarakat.

Kami percaya, niat baik akan dibalas dengan kebaikan. Kalau bukan dia yang peduli pada desanya, siapa lagi,” ucap Nining lembut saat ditanya soal keputusannya mendukung sang suami maju di Pilkades 2026.

Dukungan keluarga besar pun mengalir deras. Mereka percaya bahwa langkah Fudin bukan sekadar ambisi pribadi, tetapi wujud nyata dari pengabdian yang tumbuh dari hati. Dalam setiap perbincangan keluarga, mereka selalu mengingatkan satu hal: jaga kejujuran, karena dari situlah berkah hidup berasal.

Kalau bisa hidup dari kejujuran, maka di situlah berkahnya,” begitu prinsip yang selalu ditanamkan Fudin kepada anak-anaknya.

Kini, di usia 44 tahun, ia mantap melangkah maju sebagai calon Kepala Desa Onepute tahun 2026, dengan tekad untuk mensejahterakan masyarakat, terutama para nelayan tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Desa ini punya banyak potensi, dari nelayan yang 90% jadi mata pencaharian, sampai anak mudanya. Saya ingin semuanya tumbuh bersama,” ungkapnya penuh keyakinan.

Di mata warga, Fudin bukan hanya penjual ikan, tetapi contoh nyata bahwa pengabdian sejati selalu berakar dari rumah, dari keluarga yang mengajarkan cinta dan kejujuran. Ia membuktikan bahwa dari kehidupan yang sederhana, bisa lahir pemimpin yang membawa harapan bagi banyak orang.

Karena bagi Fudin, keluarga bukan sekadar tempat pulang — keluarga adalah alasan untuk terus melangkah, dan sumber kekuatan untuk mengabdi tanpa batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *