Masyarakat Suku Wana Taa Ceritakan, Situs Keramat Karatu yang Digusur, Banyak Orang Mati Tanpa Sebab

Berita645 Views

Morowali Utara – Kekhawatiran menyelimuti masyarakat adat Suku Wana Taa Barangas di Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara (Morut), menyusul penggusuran situs keramat Karatu oleh perusahaan sawit. Situs yang selama ini dianggap sakral dan dilindungi turun-temurun itu diyakini sebagai lokasi yang menyimpan kekuatan gaib dan sejarah kelam: tempat di mana banyak orang meninggal secara misterius tanpa sebab yang jelas.

Karatu bukan sekadar tempat biasa bagi warga adat Wana. Bagi mereka, ini adalah tanah suci yang menyimpan jejak spiritual dan trauma masa lalu. Menurut kesaksian Ruslan Labangara, seorang pelayan gereja sekaligus anak dari tokoh adat Mustakim Labangara, Karatu memiliki catatan panjang tentang kematian yang tak bisa dijelaskan secara logis.

“Waktu jaman perang, di situ banyak orang yang meninggal, mati tidak diketahui penyebabnya,” ujar Ruslan. Ia menambahkan bahwa warga lokal telah lama menjaga jarak dari kawasan tersebut karena aura mistis dan kejadian-kejadian ganjil yang tak masuk akal.

Fenomena kematian tanpa sebab di Karatu bukan hanya bagian dari cerita lisan, tetapi juga diyakini sebagai bukti kuat bahwa tempat ini bukan untuk disentuh, apalagi digusur. Namun, dua situs sakral Karatu dan Watanono telah dilaporkan rusak akibat aktivitas perusahaan sawit yang membuka lahan di Dusun Berangas, Desa Menyoe.

“Ini bukan sekadar soal tanah atau tradisi. Ini soal keselamatan dan kehormatan leluhur kami,” kata Ruslan dengan nada tegas. Ia menyatakan bahwa penggusuran ini berpotensi membawa dampak buruk bukan hanya secara spiritual, tetapi juga fisik bagi masyarakat sekitar.

Sejumlah warga kini mengaku mengalami mimpi buruk, sakit mendadak, bahkan rasa was-was yang terus menghantui sejak kawasan itu dibuka secara paksa. Meski belum ada laporan resmi terkait insiden kematian terbaru, masyarakat percaya bahwa gangguan akan terus datang selama situs-situs keramat mereka tidak dipulihkan dan dihormati.

Penolakan dari masyarakat Wana Taa Barangas terus disuarakan. Mereka mendesak pemerintah daerah dan pihak perusahaan untuk menghentikan aktivitas di wilayah keramat dan memulihkan kembali kehormatan tempat-tempat suci mereka.

“Kami tidak menolak pembangunan. Tapi jangan ganggu tanah keramat kami. Sudah banyak korban,” tutup Ruslan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *